Penulis : Aida M.A.
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal Buku : x + 250 hlm
Tahun : Mei 2013
Harga : Rp. 44.000
ISBN : 978-602-7888-32-6
Cinta
memang kombinasi yang aneh dan tidak terduga, antara pengertian dan
ketidakmengertian (The Mocha Eyes; 215).
Muara, seorang gadis yang memiliki tiga pengalaman
buruk di masa lalunya. Diperkosa, ayahnya meninggal karena teror dari si
pemerkosa, dan ditinggalkan pacar yang dicintainya. Gadis ini rapuh,
serapuh-rapuhnya. Dia belum bisa berdamai dengan masa lalu yang menawarkan
mimpi buruk setiap malam baginya. Trauma membuatnya menghindar dari orang lain,
bersembunyi di cangkang yang berupa sikap yang acuh dan suka menyendiri. Hingga
akhirnya cinta menyapanya melalui perantara setengah cangkir moka.
Fariz, si womanizer,
julukan yang diberikan Muara padanya. Seorang laki-laki yang tidak perlu
bersusah payah membuat mata wanita untuk memberikan perhatian padanya. Dia
tidak bisa dikatakan playboy, akan tetapi lebih cenderung ‘melayani’ para
kliennya. Sebuah penggambaran yang cukup bersih bagi seorang pria yang sangat
menarik hati. Dan dia jatuh cinta kepada gadis yang hanya tahu pahitnya rasa
kopi.
Dulu, ada yang bertanya pada saya, apa itu kopi
menurut sudut pandang saya? Kata si penanya, jawaban tentang kopi ini secara
psikologis akan menunjukkan bagaimana kita melihat dunia di sekeliling kita.
Saya tidak mencari tahu apakah pertanyaan tentang kopi ini memang benar ada
teorinya dalam ilmu psikologi, akan tetapi hal ini menarik sekali ketika dalam
novel The Mocha Eyes, juga terdapat
banyak sekali hubungan filosofis tentang kopi dalam kehidupan para tokohnya.
Kopi, bagi Muara, adalah alat untuk membuatnya tetap
terjaga di kala kantuk menyerang di pagi hari. Bagi seorang pengidap insomnia
seperti Muara, tentu kopi adalah sahabat terdekatnya. Akan tetapi tidak dengan
Fariz, si penyuka mochacinno. Moka adalah sebuah rasa yang unik dengan rasa
pahit dari kopi yang bercampur dengan rasa manis dari coklat, membuat rasa moka
memiliki sensasi tersendiri. Dan bagi Fariz, hidup ibarat seperti moka, ada
kalanya pahit tapi tetap ada rasa manis dan gurih di sana.
Menarik sekali bukan kedua tokoh utama ini? Yang
wanita mengalami intrvert akut, sedangkan yang laki-laki adalah sesosok manusia
yang membuat banyak orang ingin mendekat padanya.
Mengambil tokoh wanita yang trauma terhadap masa
lalu dan pria yang digilai banyak perempuan memang bukan hal yang baru, tetapi
di The Mocha Eyes, kita bisa melihat
bagaimana kedua tokoh diceritakan dengan sisi hidup dengan detil. Bagaimana mereka
bekerja, seperti apa tempat kerja mereka, bagaimana kondisi batin dan lahir
mereka, dengan kata lain deskripsi tempat dan kondisi tokoh-tokoh dapat
digambarkan dengan baik.
Kisah roman yang terjalin antara dua tokoh ini
terjalin manis dengan untaian pengantar kata yang sangat rapi. Si penulis
dengan apik bisa membuat kita merasakan kegetiran hidup Muara, yang bahkan saya
pun sampai merinding membayangkannya. Sedangkan sosok Prince Charming yang ada pada diri Fariz membuat pembaca (terutama
wanita) membayangkan betapa mereka menginginkan pria ini.
Cara penceritaan yang silih berganti dari dua sudut
pandang, Muara dan Fariz juga menjadi kekuatan pada novel ini. Kita seakan-akan
ikut dibawa pada kepribadian dua orang tokoh yang sangat bertolak belakang
tersebut.
Yang paling saya suka dari novel ini adalah
banyaknya quote-quote yang bisa membuat kita semakin menyelami tentang hidup
dan kehidupan, bahwa hidup tidak melulu pahit dan tidak pula selalu manis.
Hidup adalah perpaduan antar kenangan dan kenyataan pahit dan manis yang
terjadi yang tidak hanya perlu disesali akan tetapi juga dijalani dan berusaha
bahgia saat ini, bukan menanti besok atau nanti.
Cover yang manis dan unik memang menarik hati saya
ketika melihat novel The Mocha Eyes ini
dan tidak bisa dipungkiri pula hal yang menarik lainnya adalah karena saya suka
rasa moka.
Novel The Mocha Eyes ini sangat cocok bagi pecinta
novel roman yang menginginkan cerita cinta yang tidak lebay, serta teman
bersantai bagi sambil menyesap secangkir moccachino.