Tampilkan postingan dengan label Lomba Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba Resensi. Tampilkan semua postingan

Betang Cinta yang Tumbuh dalam Diam

Senin, 05 Mei 2014

Judul : Betang (Cinta yang Tumbuh dalam Diam)
Penulis : Shabrina WS
Penerbit : Quanta
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 175 Halaman
ISBN : 978-602-02-2389-6

Sinopsis :

Tak masalah duduk di haluan atau buritan, asal kau, tetap menggerakkan dayungmu!.

***
Danum lahir dan besar di rumah Betang (rumah adat Kalimantan). Diajatuh cinta pada dayung sejakpertama kali memilikinya. Bersama Dehen, sahabatnya, mereka menyusuri sungai-sungai, beradu kecepatan.

Perjalanan Hati, Menapaki Jejak Masa Lalu

Selasa, 31 Desember 2013

Judul Buku                :  Perjalanan Hati
Penulis                        :  Riawani Elyta
Penerbit                      :  Rak Buku
Terbit                         :  Cetakan I, Mei 2013
Tebal Buku                :  iv + 194 halaman
ISBN                          :  602-175-596-0

Masa lalu, setiap orang pasti memilikinya, entah itu masa lalu yang ingin terus dikenang atau pun yang ingin dilupakan. Demi menapaki masa lalu itu pula, Maira meminta ijin kepada Yudha, suaminya, untuk dapat mengangkat ransel lagi menaiki Anak Gunung Krakatau.

Yudha merasa aneh dengan keinginan Maira tersebut, karena Maira sudah berjanji bahwa perjalanannya 9 bulan sebelum pernikahan mereka adalah untuk yang terakhir kalinya. Dan kecemasan semakin menjadi ketika dia teringat bahwa manta kekasihnya, Donna, menemui Maira ketika Yudha sedang tidak ada di rumah. Pertanyaan tentang apa yang telah disampaikan Donna kepada Maira merupakan mimpi buruk yang terus menghantui Yudha sejak saat itu. Sekali lagi jawabannya adalah masa lalu.

The Mocha Eyes, Menemukan Cinta dalam Secangkir Moka


Penulis : Aida M.A.

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal Buku   : x + 250 hlm

Tahun  : Mei 2013

Harga : Rp. 44.000

ISBN : 978-602-7888-32-6

Cinta memang kombinasi yang aneh dan tidak terduga, antara pengertian dan ketidakmengertian (The Mocha Eyes; 215).

Muara, seorang gadis yang memiliki tiga pengalaman buruk di masa lalunya. Diperkosa, ayahnya meninggal karena teror dari si pemerkosa, dan ditinggalkan pacar yang dicintainya. Gadis ini rapuh, serapuh-rapuhnya. Dia belum bisa berdamai dengan masa lalu yang menawarkan mimpi buruk setiap malam baginya. Trauma membuatnya menghindar dari orang lain, bersembunyi di cangkang yang berupa sikap yang acuh dan suka menyendiri. Hingga akhirnya cinta menyapanya melalui perantara setengah cangkir moka.

Fariz, si womanizer, julukan yang diberikan Muara padanya. Seorang laki-laki yang tidak perlu bersusah payah membuat mata wanita untuk memberikan perhatian padanya. Dia tidak bisa dikatakan playboy, akan tetapi lebih cenderung ‘melayani’ para kliennya. Sebuah penggambaran yang cukup bersih bagi seorang pria yang sangat menarik hati. Dan dia jatuh cinta kepada gadis yang hanya tahu pahitnya rasa kopi.

Dulu, ada yang bertanya pada saya, apa itu kopi menurut sudut pandang saya? Kata si penanya, jawaban tentang kopi ini secara psikologis akan menunjukkan bagaimana kita melihat dunia di sekeliling kita. Saya tidak mencari tahu apakah pertanyaan tentang kopi ini memang benar ada teorinya dalam ilmu psikologi, akan tetapi hal ini menarik sekali ketika dalam novel The Mocha Eyes, juga terdapat banyak sekali hubungan filosofis tentang kopi dalam kehidupan para tokohnya.

Kopi, bagi Muara, adalah alat untuk membuatnya tetap terjaga di kala kantuk menyerang di pagi hari. Bagi seorang pengidap insomnia seperti Muara, tentu kopi adalah sahabat terdekatnya. Akan tetapi tidak dengan Fariz, si penyuka mochacinno. Moka adalah sebuah rasa yang unik dengan rasa pahit dari kopi yang bercampur dengan rasa manis dari coklat, membuat rasa moka memiliki sensasi tersendiri. Dan bagi Fariz, hidup ibarat seperti moka, ada kalanya pahit tapi tetap ada rasa manis dan gurih di sana.

Menarik sekali bukan kedua tokoh utama ini? Yang wanita mengalami intrvert akut, sedangkan yang laki-laki adalah sesosok manusia yang membuat banyak orang ingin mendekat padanya.

Mengambil tokoh wanita yang trauma terhadap masa lalu dan pria yang digilai banyak perempuan memang bukan hal yang baru, tetapi di The Mocha Eyes, kita bisa melihat bagaimana kedua tokoh diceritakan dengan sisi hidup dengan detil. Bagaimana mereka bekerja, seperti apa tempat kerja mereka, bagaimana kondisi batin dan lahir mereka, dengan kata lain deskripsi tempat dan kondisi tokoh-tokoh dapat digambarkan dengan baik.

Kisah roman yang terjalin antara dua tokoh ini terjalin manis dengan untaian pengantar kata yang sangat rapi. Si penulis dengan apik bisa membuat kita merasakan kegetiran hidup Muara, yang bahkan saya pun sampai merinding membayangkannya. Sedangkan sosok Prince Charming yang ada pada diri Fariz membuat pembaca (terutama wanita) membayangkan betapa mereka menginginkan pria ini.
Cara penceritaan yang silih berganti dari dua sudut pandang, Muara dan Fariz juga menjadi kekuatan pada novel ini. Kita seakan-akan ikut dibawa pada kepribadian dua orang tokoh yang sangat bertolak belakang tersebut.

Yang paling saya suka dari novel ini adalah banyaknya quote-quote yang bisa membuat kita semakin menyelami tentang hidup dan kehidupan, bahwa hidup tidak melulu pahit dan tidak pula selalu manis. Hidup adalah perpaduan antar kenangan dan kenyataan pahit dan manis yang terjadi yang tidak hanya perlu disesali akan tetapi juga dijalani dan berusaha bahgia saat ini, bukan menanti besok atau nanti.

Cover yang manis dan unik memang menarik hati saya ketika melihat novel The Mocha Eyes ini dan tidak bisa dipungkiri pula hal yang menarik lainnya adalah karena saya suka rasa moka.

Novel The Mocha Eyes ini sangat cocok bagi pecinta novel roman yang menginginkan cerita cinta yang tidak lebay, serta teman bersantai bagi sambil menyesap secangkir moccachino.

#5BukuDalamHidupku The New Year

Selasa, 12 November 2013

Judul               : The New Year
Penulis            : Pearl S Buck
Tahun Terbit   : 1968
ISBN             : 0381980448
Tebal             : 255 halaman
Penerbit         : John Day

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat kebingungan ketika harus menghadapi skripsi. Jika kebanyakan teman lain sudah tahu dan mempersiapkan bahan-bahan untuk skripsi, saya masih berkutat novel apa yang akan saya pakai untuk bahan skripsi saya. Iya, novel, karena saya kuliah di sastra inggris. Saya lebih memilih novel daripada puisi. Kalau puisi lebih berat untuk mengkajinya menurut saya loh ya. Saat itu saya tidak mau mengambil novel yang sudah banyak dikaji oleh orang lain. Karena terlalu popular di kalangan dosen hehe. Akhirnya, setelah menimbang dan saya pun memutuskan untuk mengambil novel dari penulis Pearl .S. Buck yang judulnya The New Year (Tahun Baru). Waktu itu saya ambil teori konflik untuk mengkajinya.

Labirin Rasa

Kamis, 26 September 2013

Judul         : Labirin Rasa
Penulis      : Eka Situmorang-Sir
Penerbit    : Wahyumedia
Halaman   : 394 halaman
ISBN         : 9797957535

Harga        :  52.000

Beri ruang untuk hati temukan cintanya

Kayla, sebuah nama yang berarti mahkota, nama yang cantik untuk seorang gadis yang ‘jauh’ dari penggambaran kata cantik. Kayla, dengan muka jerawatan, baju yang tak rapi, dan rambut bau prengus. Belum lagi hobinya yang suka membawa tas kresek kemana-mana dan hobi berpetualangnya yang gila. Dan semua itu bertambah sempurna dengan nilai-nilanya yang jelek dan cara bertutur yang ceplas-ceplos. Aaah…kok gak ada bagus-bagusnya sih si Kayla ini. Memiliki dua sahabat yang benar-benar mengerti dan bisa menerimanya adalah sebuah anugerah untuk seorang Kayla.

Hingga suatu ketika dia bertemu Ruben di atas kereta menuju Jogja dan beranggapan bahwa Ruben adalah si Pangeran Fajarnya, yang akan melindungi dan mendampinginya. Dan petualangan dalam sebuah Labirin Rasa pun dimulai.

Jatuh bangun Kayla dalam mengejar Ruben patut diacungi jempol. Walau pun ia sadar sesadar-sadarnya bahwa dia si itik buruk rupa yang menginginkan Pangeran Tampan, akan tetapi tetap dong ya dia gak kenal namanya menyerah. Baru kenal saja, Kayla sudah berinisiatif untuk pindah kuliah ke Jogja, demi  si Ruben ini. Dan setelah Ruben telah mengecewakannya pun, Kayla masih tetap cinta setengah hidup dengan si Ruben. Bahkan dia mengejarnya hingga ke Medan.

Membaca dan menyelami sepak terjang Kayla, yang terbersit dalam benak saya adalah whooa…the real Batak nih hehe. Karena kebetulan saya punya beberapa teman dari Batak dan sifat mereka walau pun tidak seekstrim Kayla, tapi sebelas dua belas lah sama Kayla. Pantang menyerah, ceplas-ceplos, dan easy going. Kalau toh si Kayla ini ada yang menganggap absurd, hanya ada di novel, well tapi di kehidupan nyata cinta dapat mengubah segalanya kan? Kegilaannya pada Ruben menurut saya itulah bentuk cintanya. Toh, dalam kehidupan nyata banyak orang yang melakukan hal-hal yang lebih gila dari Kayla.

Jika kemudian setelah memakan waktu cukup lama baru Kayla menyadari bahwa si Pangeran Fajarnya bkanlah Ruben, belum terlambat untuk emnggapai kebahagiaan hakiki dalam biduk sebuah rumah tangga dengan Patar, paribannya.

Dalam novel Labirin Rasa memang tidak ada konflik yang terbangun dengan angkuh, novel ini hanya menceritakan Kayla yang tomboy dan dengan segala kekurangannya berhasil memikat hati Ruben (walau sebentar), Dani, Patar, dan si Bule David. Bayangkan,jelekaja dia bias memikat begitu banyak pria, apalagi ketika dia menjelma menjadi angsa cantik.

Konflik hanya ada pada diri Kayla, pada perasaannya ke Ruben. Walau pun demikian kita justru seakan-akan dihadapkan pada cerita kehidupan yang sesungguhnya. Bukankah konflik terbesar dalam hidup memang hanya seputar pada hati kita sendiri?

Yang menjadi nilai plus dari novel ini adalah penjabaran tempat-tempat wisata yang sumpah membuat ngiler pengen menjejakkan kaki di sana. Satu hal yang dengan sukses disampaikan Kak Eka, bahwa Indonesia itu indah. Mari berpetualang mengelilinginya!

Sayang sekali, kenikmatan membaca novel ini terganggu dengan banyaknya salah ketik (typo). Untuk pembaca yang cerdas seperti saya, mungkin bisa langsung paham bahwa si typo ini maksudnya begini..eh..tapi ini cukup bikin gak enak baca lho. Apa karena tidak ada proofreader ya?

Tapi, secara keseluruhan membaca Labirin Rasa seperti masuk pada labirin hati seorang gadis muda yang penuh dengan berbagai rasa yang ada pada hatinya. Hmm…untung saja labirin ini berujung pada kebahagiaan. Jadi, pembaca tidak kecewa haha.